TVRINews, Ngawi
Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, untuk naik kelas dengan menjadi bagian dari rantai pasok kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).
Dorongan tersebut disampaikan Novita dalam kegiatan Sosialisasi Optimalisasi Kemitraan UMKM dalam Rantai Pasok Event MICE di Desa Sumber Koso, Kabupaten Ngawi.
Menurut Novita, penyelenggaraan event di daerah tidak boleh hanya menghasilkan keramaian, tetapi juga harus memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada masyarakat sekitar.

Ia menilai berbagai kebutuhan dalam penyelenggaraan event, mulai dari katering, makanan ringan, suvenir, dekorasi, dokumentasi, transportasi hingga jasa kreatif, dapat dipenuhi oleh UMKM lokal.
“Event yang bagus bukan cuma event yang ramai. Event yang bagus adalah ketika setelah acara selesai, ada UMKM yang pulang membawa pesanan, ada keluarga yang mendapat tambahan penghasilan, dan ada usaha kecil yang punya pelanggan baru,” ujar Novita kutip Sabtu, 29 Agustus 2026.
Novita mengatakan peluang UMKM untuk masuk dalam rantai pasok event semakin besar seiring meningkatnya mobilitas wisatawan dan aktivitas ekonomi di Ngawi.
Berdasarkan data yang disampaikannya, kunjungan wisatawan di Ngawi meningkat dari sekitar 552 ribu orang pada 2022 menjadi 600 ribu orang pada 2023. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Ngawi tercatat 4,64 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 5,31 persen pada 2025.
Menurut Novita, momentum tersebut harus dikonversi menjadi peluang pasar bagi UMKM lokal. Sebab, satu kegiatan event dapat menggerakkan berbagai sektor ekonomi apabila rantai pasoknya melibatkan pelaku usaha dari daerah setempat.
“Jangan sampai event digelar di daerah, tetapi UMKM lokal hanya menjadi penonton. Hotel mendapatkan manfaat, penyelenggara mendapatkan manfaat, tetapi produk dan jasa yang digunakan justru berasal dari luar daerah,” tegasnya.
Karena itu, Novita mendorong pemerintah daerah membangun database UMKM yang siap memasok kebutuhan event. Database tersebut, kata dia, perlu dilengkapi informasi mengenai jenis produk, kapasitas produksi hingga standar pelayanan.
Langkah itu dinilai dapat memudahkan penyelenggara event dalam mencari mitra lokal sekaligus membuka akses pasar baru bagi pelaku UMKM.
Namun, Novita menegaskan peluang tersebut harus diikuti dengan kesiapan UMKM. Pelaku usaha diminta memperkuat kualitas produk, kemasan, kapasitas produksi, ketepatan waktu, legalitas, serta pelayanan agar mampu memenuhi kebutuhan event dalam skala besar.
“UMKM harus berani naik kelas. Ketika hari ini mampu memenuhi pesanan 20 orang, kita harus mulai mempersiapkan diri untuk menerima pesanan 200 bahkan 1.000 orang. Di situlah event MICE bisa menjadi pintu bagi UMKM untuk berkembang,” katanya.
Novita juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, penyelenggara event, pelaku pariwisata, komunitas, dan UMKM. Menurutnya, ekosistem MICE yang kuat harus mampu memastikan perputaran uang dari sebuah kegiatan sebanyak mungkin tinggal dan dirasakan oleh masyarakat daerah.
Ia pun mengajak masyarakat Ngawi untuk membangun keberpihakan terhadap produk lokal dengan menjadi konsumen pertama bagi UMKM daerah.
“Kalau bukan kita yang bangga memakai produk Ngawi, siapa lagi?” pungkas Novita.
Novita berharap penguatan kemitraan tersebut dapat membuat event MICE tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus membuka jalan bagi UMKM Ngawi untuk naik kelas dan menembus pasar yang lebih luas.










