TVRINews, Bali
Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, menyoroti masih terbatasnya akses permodalan bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di Bali. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi di tengah besarnya potensi pariwisata dan ekonomi kreatif yang dimiliki Bali.
Ia mengatakan, jika besarnya pasar pariwisata dinilai belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM lokal.
“Kita sebenarnya bukan kekurangan pasar. Pasarnya banyak sekali. Tetapi masih ada gap antara besarnya pasar pariwisata dengan seberapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar masuk ke UMKM lokal,” ujar Novita saat Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI ke Nuanu Creative City Inc, Kabupaten Tabanan, Bali, kutip Sabtu, 29 Agustus 2026.
Novita mengatakan, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah keterhubungan UMKM lokal dengan rantai pasok sektor pariwisata. Selain pasar, pelaku usaha juga membutuhkan akses pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik bisnis mereka.
Ia mencontohkan kondisi di Kabupaten Tabanan yang masih menunjukkan adanya kesenjangan penyaluran pembiayaan bagi pelaku usaha di sektor tertentu.
Menurut Novita, kondisi tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya, mulai dari kendala administratif, persyaratan pembiayaan, hingga skema perbankan yang belum sesuai dengan karakter usaha ekonomi kreatif.
“Pelaku ekonomi kreatif memiliki karakter usaha yang berbeda dengan sektor konvensional. Banyak yang mengandalkan karya, kreativitas, dan kekayaan intelektual, sementara aset fisik yang bisa dijadikan agunan belum tentu memadai,” jelasnya.
Karena itu, Novita mendorong pemerintah dan perbankan menyusun pola pembiayaan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pelaku ekonomi kreatif.
“Kita perlu menemukan pola pembiayaan yang lebih tepat agar pelaku ekonomi kreatif mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dalam mengakses permodalan,” tegasnya.
Ia menilai penguatan ekonomi kreatif tidak cukup hanya dengan membangun pasar dan ekosistem usaha. Akses modal, perlindungan kekayaan intelektual, keterhubungan dengan industri pariwisata, serta kepastian pasar juga harus diperkuat secara bersamaan.
“Jangan sampai kita hanya memiliki ekosistem kreatif yang terlihat besar, tetapi pelaku UMKM lokal justru tidak menjadi bagian utama dari rantai pasoknya. Ini harus menjadi pekerjaan bersama,” pungkas Novita.










