TVRINews – Jombang. Jawa Timur
Ketua OC Muktamar ke-35 NU Soroti Tradisi Kehadiran Kepala Negara Sejak Era Soekarno hingga Prabowo Subianto di Jombang.
Penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi momentum konsolidasi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Ajang ini juga menegaskan kesinambungan hubungan historis antara negara dan ulama yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Dalam laporan pembukaannya, Ketua Panitia Pusat (Organizing Committee/OC) Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf, menyoroti panjangnya rekam jejak kehadiran para pemimpin tertinggi Republik Indonesia dalam perhelatan akbar organisasi ini.
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan ribuan peserta, figur yang akrab disapa Gus Ipul itu memaparkan bagaimana tradisi keterlibatan kepala negara terus dijaga dari masa ke masa.
"Bapak Presiden yang kami hormati, tentu ini merupakan kehormatan yang sangat besar bagi kami karena hari ini Bapak Presiden hadir langsung untuk membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama," ujar Gus Ipul pada Kamis 27 Agustus 2026.
Gus Ipul merinci, tradisi pembukaan Muktamar oleh kepala negara telah dimulai sejak era Presiden pertama RI, Soekarno. Estafet tersebut kemudian berlanjut pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, termasuk momen penting Muktamar ke-27 NU di Situbondo, Jawa Timur, yang menjadi tonggak sejarah kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Ipul turut memberikan penghormatan khusus kepada Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri mendiang Gus Dur, yang hadir di tengah-tengah peserta muktamar.
Kilas balik sejarah tersebut terus berlanjut ke era kepemimpinan modern. Gus Ipul mencatat keterlibatan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono yang membuka muktamar di Boyolali dan Makassar, serta Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang memimpin pembukaan muktamar di Jombang dan Lampung.
Kini, rantai sejarah itu menemukan momentumnya di abad kedua usia NU. Kehadiran Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto untuk membuka Muktamar ke-35 dipandang sebagai wujud penghormatan atas peran strategis kaum nahdliyin dalam menjaga keutuhan bangsa.
Suasana laporan yang sarat makna historis tersebut sempat diwarnai nuansa akrab ketika Gus Ipul menyisipkan analogi numerik antara angka penyelenggaraan muktamar dan urutan kepemimpinan nasional.
"Meneruskan Kiai Hasib, kalau boleh sedikit bermain angka, Bapak Presiden, Muktamar ke-35, 3 + 5 = 8," pungkas Gus Ipul, mengaitkan angka tersebut dengan posisi Presiden Prabowo sebagai Presiden RI ke-8.
Kehadiran kepala negara dalam forum tertinggi ini menegaskan posisi vital Nahdlatul Ulama sebagai pilar kebangsaan yang terus merawat sinergi erat dengan pemerintah dalam mengawal pembangunan nasional.










