
Rakernas PDIP Ditutup, Soroti 8 Tantangan Besar Bangsa
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
PDI Perjuangan resmi menutup Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Tahun 2026 dengan membacakan Rekomendasi Eksternal Partai yang memetakan delapan tantangan besar yang dinilai tengah dihadapi Indonesia. Penutupan berlangsung di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Rakernas kali ini mengusung tema, “Satyam Eva Jayate: Di sanalah Aku Berdiri Untuk Selama-lamanya,” sebuah penegasan bahwa perjuangan partai harus berlandaskan kebenaran yang diyakini akan selalu menang.
Tema Rakernas menegaskan sikap politik PDIP yang menempatkan kebenaran sebagai pusat orientasi perjuangan.
“Seluruh tantangan ini hanya dapat dijawab dengan keberanian untuk berdiri pada kebenaran. Karena sebagaimana tema Rakernas, kebenaran pasti menang,” tegas Jamaluddin.
Rekomendasi tersebut dibacakan oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Aceh, Jamaluddin Idham, yang menegaskan bahwa seluruh sikap politik partai berpijak pada nilai-nilai Pancasila serta pandangan kebangsaan yang diwariskan Bung Karno dan Megawati Soekarnoputri.
“PDI Perjuangan menempatkan etika-moral, keteladanan, dan kebenaran hakiki sebagai pandu perjuangan politik,” ujar Jamaluddin.
“Kebenaran itu adalah kebenaran ideologis Pancasila, kebenaran konstitusional UUD 1945, serta kebenaran etika yang berpihak kepada rakyat,” lanjutnya saat membacakan rekomendasi Rakernas.
Jamaluddin menjelaskan bahwa PDI Perjuangan membaca adanya delapan tantangan fundamental yang saling berkaitan dan akan menentukan arah masa depan Indonesia.
Tantangan tersebut diawali dengan krisis keteladanan bernegara akibat penyelewengan etika dan tata perilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta bencana dan malapetaka ekologis sebagai dampak dari kesalahan kebijakan tata ruang, konversi hutan yang tidak terkendali, hingga industrialisasi ekonomi ekstraktif.
Tantangan berikutnya yang disoroti adalah robohnya supremasi hukum yang mengakibatkan hukum kehilangan ruh kemanusiaan yang beradab, serta persoalan ekonomi sistemik yang mencakup keterbatasan fiskal, penumpukan hutang luar negeri, korupsi, hingga de-industrialisasi yang memicu pengangguran dan kemiskinan.
PDI Perjuangan juga memberikan catatan keras terhadap bekerjanya otoritarian populis yang membungkam suara kritis, mengabaikan mekanisme check and balances, serta melakukan penyalahgunaan kekuasaan negara atau abuse of power.
Lebih lanjut, Jamaluddin menyebutkan adanya pelanggaran dalam tata kelola pemerintahan negara yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat.
Sebagai poin terakhir, tantangan datang dari pertarungan geopolitik global yang membangkitkan kembali neo-otoritarianisme dan neo-imperialisme.
Penutupan Rakernas ini menjadi pedoman moral sekaligus arah gerak politik partai dalam menghadapi situasi nasional maupun dinamika global.
Editor: Redaksi TVRINews
